Oleh: gayo | Mei 6, 2009

SAUDARAKU YANG LAIN

ia adalah sebuah sosok sejarah
ia juga sepenggal “jalan” yang di lalui sejarah
tetapi , ia pun sosok hari ini – sisa sejarah
yang meniti jalan ny sejarah
selama 70-an tahun , sudah
jejak – jejak perjalanan itu tergores pada dahinya
goresan pengalaman duka tiga zaman
yang tampaknya tak sempat pulih lagi
waktu sudah begitu singkat dalam genggaman tanganya
jemarinya pun bergetar mengepal waktu

ia pemukim sebuah perbukitan berkabut
yang menyejukkannya dalam angetnya perjalanan sejarah
ia hidup diantara hijau dedaunan
yang melunakkan pandangannya menyaksikan kerasnya hati zaman
ia berteduh dibawah kesederhanaan gubuknya
kesederhanaan – nyanyian kesehariannya

kini , tubuhnya sudah doyong ke depan
mengemban beban pesan sejarah
yang harus dipikulnya entah ke arah mana
harus di serahkan nya entah kepada siapa
tampaknya jaman sudah tak mengacuhkannya

apakah ia kecewa atau putus asa menapaki ujung jalan ini ?
dibawah alis , mata yang bening masih memancar sinar
paras yang tenang memandang sekitar
mengisyaratkan asa dan pikir…….

didedikasi kepada :alm Prof M.junus melala toa
(luka sebuah negeri).2007


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori